Kisah: Lelaki Beraura Violet (15)

- Jumat, 2 Desember 2022 | 21:19 WIB
Kapan lelaki beraura violet itu sadar bahwa menjadi abu juga tak buruk? (pixabay.com)
Kapan lelaki beraura violet itu sadar bahwa menjadi abu juga tak buruk? (pixabay.com)

Aku tak sempat membalas pesan terakhirmu karena berusaha mati-matian mencari celah, melawan pemahaman diri sendiri: tak mungkin kan kau menyarah dengan hidupmu? Meski kutahu memang selalu berpura-pura sangat lelah, tetapi lelaki beraura violet yang kutahu masih bisa tertawa sesekali.

Aku ingin membalas pesanmu, tapi masih menimang-nimang kata apa yang bisa menjawabmu. Setiap frasa adalah belati yang menyayat kedua matamu. Lelaki beraura violet yang punggungnya koyak itu, apakah bisa bertahan dari berondongan fragmen-fragmen ingatan?

Bagaimana bisa saat sedang butuh jawaban, aku malah memikirkan banyak pertanyaan seperti ini? Apakah lelaki beraura violet itu, masih ingin mempertahankan warnanya dan tak ingin menjadi abu?

Baca Juga: Kisah: Fragmen Ingatan (15)

Masih banyak "apakah-apakah" lain, namun aku memilih lari dengan tulisanku daripada menemuimu. Mengapa? Sekarang tak ada yang lebih penting dari tetap menyalakan catatan tentangmu.

Kau tahu, itulah yang kelak akan kubawa saat mengunjungi kuburmu. Aku akan melanjutkan kisahmu yang kini telah dibaca beberapa orang.

Sekarang aku tahu bahwa beban, kekecewaan, kesakitan, dan kepahitan hati bisa ditulis dengan bahasa paling romansa seperti ini.

Kepercayaan kecil ini bisa menjadi pelukan yang sarat cinta dan sepanas napas kering maut yang mencekik lehermu. Rasanya seperti kau hampir mati setiap malam. Namun setiap pagi matamu terbuka. 

Kau tahu maut hanya datang melecut luka-luka, kemudian pergi setelah lelah. Baginya, kau hanya barang sewa untuk menguar kebosanan.

Halaman:

Editor: Ririn Juli Maheswari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cermin Prasangka, Rumput Tetangga Tampak lebih Hijau

Jumat, 3 Februari 2023 | 06:29 WIB

Mereka yang Bosan dengan Lelucon

Sabtu, 28 Januari 2023 | 06:20 WIB
X